BRR untuk ‘1001′ Macam Rehab-Rekon Aceh

Mei 27, 2008 oleh Mhd. Arifsyah Nasution

 

 “Ada apa dengan rehab-rekon Aceh?” menjadi pertanyaan menarik yang mengusik hati nurani siapa saja yang melihat adanya ‘ketidaklurusan’ dalam proses pemulihan Aceh pascabencana. Berbagai komentar (baca: gonjang-ganjing) terhadap rehab-rekon Aceh harus dimaklumi akan terus mengalir deras, baik yang bernada positif ataupun negatif. Sudah menjadi obrolan harian, proses rehab-rekon Aceh sejak ditabuh secara resmi dengan kehadiran BRR pertengahan April 2005 silam selalu diwarnai dengan  geliat ketidakberesan dan teriakan ketidakpuasan.

Pertanyaan tersebut juga tidak serta-merta hadir begitu saja. Mengikuti perkembangan terkini di berbagai wilayah, harus diakui, rehab-rekon ala BRR masih sangat jauh (baca: melenceng) dari apa yang diharapkan masyarakat dan apalagi dengan apa yang telah diamanahkam dalam blue print NAD-Nias. Tak bisa dipungkiri bahwa rehab-rehab rekon Aceh yang ‘dikomandani’ BRR tak lebih dari kerjaan tambal-sulam. Apa lacur! Harapan dan keinginan SBY semula awal bahwa rehab-rekon Aceh tidak (akan) dijalankan tambal-sulam, menjadi lip-service alias cuap-cuap belaka.

BRR yang sejatinya menjadi panutan serta sumber inspirasi dan motivasi bagi semua pihak yang berpartisipasi dalam rehab-rekon ternyata hanya bisa menampilkan ‘kelakuan’ bermental ‘maling’ dan tak berhati nurani. Sebagai lembaga vertikal dengan mandat spesial, diakui telah mewujudkan BRR sebagai tempat yang sedemikian strategis nan manis menggoda. Begitu menggodanya, penggiat BRR akhirnya lebih terfokus pada pembangunan ‘lingkaran setan’ daripada menseriusi dan mereasilisasikan substansi cetak-biru (baca: blue-print).

 

BRR 1001 macam

Perubahan yang menyolok pada struktur dan sistem kerja BRR lewat regionalisasi mulanya diharap memperpendek rantai birokrasi dan koordinasi dalam penyelenggaraan rehab-rekon di berbagai wilayah. Sayangnya kebijakan tersebut hingga kini tidak berbuah prestasi, malah yang mencuat akhirnya hanya sebuah kesepakatan bagi-bagi posisi. Tak salah dan tak perlu diragukan lagi bahwa BRR memang disesaki oleh mafia-mafia proyek, baik ‘bersertifikat’ lokal, nasional maupun internasional. Pantaslah sedari mula singkatan ‘BRR’ dapat dan acap diplesetkan menjadi 1001 macam kepanjangan. ‘Kebengalan’ (baca: ketidakpekaan) BRR selama ini ujungnya melahirkan tidak kurang dari 1001 macam dampak dan masalah, terutama terkait dengan kualitas, profesionalitas, mentalitas dan moralitas bagi penggiat BRR itu sendiri dan juga bagi pihak dan siapa saja yang ‘berkubang’ dalam menjalankan ‘tugas-mulia’ bertajuk rehab-rekon Aceh pascabencana.

Keadaan terus merunyam, ketika semakin jelas terlihat bahwa BRR selaku pemegang mandat ternyata tidak mampu (baca: mau) memperbaiki citra, kinerja dan perannya secara baik, jujur dan berwibawa, terutama dalam melahirkan tindakan dan kebijakan rehab-rekon yang bermanfaat dan bermartabat. Parahnya lagi, sebagian tindakan dan kebijakan yang dilahirkan BRR akhir-akhir ini cenderung untuk menutupi dan membentengi diri dari kekurangtanggapan dan ketidakcakapan yang dipertontonkannya selama ini. Walhasil, tak heran banyak pihak memandang kinerja BRR, jeblok dan bobrok.

Misalnya saja ketidakakuratan data jumlah korban tsunami – baik yang berhak mendapat bantuan rumah ataupun yang hanya berhak mendapat dana bantuan rehab rumah –  menjadi indikator yang tak terbantahkan bahwa penggiat BRR tidak memiliki keseriusan menjalankan ‘tugas-mulia’-nya. Ditambah dengan beberapa kasus korupsi yang menimpa (baca: dilakukan) sejumlah oknum BRR, benar-benar menjadi penanda bahwa ‘lingkaran setan’ itu benar-benar ada.

Coba endus saja aroma ‘jual-beli’ proyek yang sangat menyengat di hampir seluruh satker BRR. Aroma tersebut merupakan hasil kolaborasi teknis antara panitia pelelangan, PPK dan pemburu proyek (baca: kontraktor ataupun konsultan). Padahal seyogianya, seluruh satker tersebut notabene adalah ujung-tombak BRR yang semestinya dapat dipercaya dan tidak bermain culas.

Ironi lainnya adalah BRR yang selama ini acap dibombardir dengan kritik pedas, ternyata tidak pernah mencapai level ‘kesadaran’ dan ‘penalaran’ yang baik untuk berbuat dan bertindak lebih profesional dan bermoral.

 

Kelemahan sekaligus ‘Peluang’ BRR

Sebagaimana yang telah disinggung didepan, ketidakmampuan BRR menginventarisir dan memvalidkan jumlah korban tsunami (baca: calon penerima manfaat) secara pasti menyebabkan kesimpangsiuran jumlah pasti penerima manfaat bantuan rumah. Berapa sebenarnya angka pasti kebutuhan rumah tidaklah jelas, padahal digit yang valid sangat penting dan menjadi dasar perencanaan dan bahan koordinasi dengan berbagai pihak. Itu baru soal jumlah, belum lagi bicara masalah mutu dan ketepatan, baik waktu dan sasarannya. Wajarlah memang ketika masih banyak pihak yang berkoar-koar – baik yang benar-benar korban ataupun mengaku-ngaku korban – belum mendapatkan bantuan rumah.

BRR sedari awal sepertinya memang mengganggap enteng inventariasi, verifikasi dan kategorisasi calon penerima manfaat (baca: korban) secara benar dan transparan. Tidak ada sebuah upaya konkrit dari BRR, misalnya dengan membuat database secara terintegrasi dan terbuka yang bisa diakses siapa saja, sehingga proses pemberian bantuan dapat baik terawasi dan berjalan adil.

Yang sudah jelas dapat ‘dibanggakan’ dari BRR hanyalah pintar dan piawai menghitung berapa anggaran yang bisa ‘diolah’ dari DIPA 2005 hingga DIPA 2009. Masalah ketidakakuratan bukanlah hambatan berarti, karena tentunya akan memperbesar ‘peluang’ dari ‘olah-mengolah’ itu sendiri.

 

Ulah BRR Tanggung Jawab Pusat

Karena BRR hakikatnya merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat dalam menjalankan pemulihan Aceh pascabencana, maka kelemahan, kelalaian dan kebengalan BRR secara tidak langsung juga menggambarkan ketidakseriusan SBY melakukan pembinaan terhadap orang-orang kepercayaannya.

Namun sepertinya pemerintah pusat masa-bodo dengan realita rehab-rekon Aceh, karena sangat diluar dugaan, pemerintah pusat justeru ‘bangga’ dengan apa yang telah dicapai BRR sejauh ini. Pujian bagi seorang Kuntoro sebegitu lepas terucap tanpa (harus) mempertimbangkan bahwa pujian tersebut menjadi duka baru untuk masyarakat Aceh, terutama bagi mereka yang hingga saat ini hak-haknya sebagai korban tsunami belum sepenuhnya ditunaikan oleh BRR.

Konkritnya, pemerintah pusat harus bertanggungjawab atas 1001 macam ‘kelakuan’ BRR selama ini. Kegagalan BRR adalah kegagalan pemerintah pusat, ini adalah sebuah konsekuensi logis.

 

Penutup

Kiprah dan ulah BRR dipastikan menjadi rekaman yang tak mudah terhapus begitu saja, terutama dalam ingatan orang Aceh yang hidup sezaman dengan lembaga tersebut. Menimbang begitu kontroversinya kelakuan BRR selama ini, maka bukanlah apresiasi yang berlebihan bila lembaga dibawah komando ‘Mr. Kun’ tersebut dapat dinobatkan menjadi ‘biang 100l macam’ terkait dengan beragam keganjilan rehab-rekon Aceh.

Kembali ke awal, “Ada apa dengan rehab-rekon Aceh?” setidaknya menjadi salah satu dari 1001 macam pertanyaan yang timbul di berbagai kelas perbincangan, baik di forum-forum birokrasi, seminar-seminar sehari, bahkan hingga di meja-meja warung kopi. Tujuan dan kejaran dari pertanyaan itupun bisa dilatarbelakangi 1001 macam motif, sesuai dengan intonasi, aksentuasi dan emosi si penanya. Jawabannya juga bisa 1001 alasan, sehingga akhirnya pantas dikemas menjadi bunga-rampai 1001 macam kilahan. Itulah kondisi termutakhir rehab-rekon Aceh, dihiasi dengan 1001 macam kritik, polemik dan ‘intrik’.

Gugatan Terhadap Kenyataan

Februari 11, 2008 oleh Mhd. Arifsyah Nasution

Kita acap tertipu dengan sebuah kemapanan. Sering menafikan sisi gelap yang seharusnya diterangi lalu dimaknai dan dikritisi. Keadaan ini membuat kita mati rasa terhadap kepahitan dari kenyataan (baca: kemapanan) yang tengah kita lihat dan elukan.

Apakah semuanya harus berakhir manis yang dipaksakan? Apakah semua kisah harus mengikuti alur yang mengantarkan kita pada suatu kemunafikan yang terbiasakan?

Kawan! Sungguh aku mulai gerah bicara tentang “kenyataan kini” karena bukan seperti inilah kenyataan itu. Bisakah engkau menjelaskan hakikat dari sebuah kenyataan sementara kita masih bersandiwara dan berpura-pura hidup bak pahlawan atau bahkan layaknya malaikat? Ataukah kita terus berfikir bahwa apa yang telah kita raih kini adalah sebuah pencapaian dan kesuksesan?!

Benar memang, tolak ukur dan pola pandang tiap orang berbeda satu dengan lainnya, hingga melahirkan sintesis-sintesis yang beragam, kadang sinergi dan malah sering kontradiktif! Tapi aku benar-benar yakin bahwa “kenyataan sebenarnya” adalah sesuatu yang mendasar dan apa adanya. Sebaliknya “kenyataan kini” didominasi dan lahir dari cara berfikir yang miskin keadilan dan kejujuran? Bagiku dan mungkin bagimu, bicara tentang “kenyataan kini” sama saja berdendang tentang hari-hari yang tercipta dari sebuah proses yang penuh permainan culas, dipoles dengan secuil tindakan suci setengah hati, seolah-olah tampaknya seperti perjuangan yang bebas noda, bebas dosa.

Kawan! Tanah tempat kita lahir dan dibesarkan ini, sesungguhnya adalah tanah yang telah gersang dan semakin gersang karena ketidaksadaran kita, sehingga hakikatnya saat ini kita tak lebih hanya sedang bermimpi indah hidup pada tanah subur nan makmur yang kemudian kita teriakkan latah sebagai sebuah kenyataan.

Bukan bermaksud menyalahkan sejarah, pendahulu dan kita di tanah ini, tapi aku yakin ketika seharusnya hari yang lalu kita bisa berfikir lebih visioner, bertindak secara lebih adil dan jujur, maka “kenyataan kini” yang sesungguhnya pilu takkan mendominasi hari ini. Maka sama halnya bila kemudian kita kini tersadar untuk mencoba berfikir terbuka, objektif dan optimis, bersikap dan bertindak adil dan jujur, sungguh “kenyataan kini” yang disesaki tipu muslihat sepatutnya takkan mudah terulang lagi dihari esok.

Sepertinya sungguh kita tak pernah bisa memetik hikmah sejarah, karena selama ini kita sering mengaku belajar dari sejarah, padahal sebenarnya kita hanya terpaku pada sejarah, atau bahkan kita menjiplak sejarah tersebut secara bulat-bulat, maka terjadilah pengulangan sejarah walaupun dilakonkan oleh orang yang berbeda dengan sedikit inovasi dan beda versi. Masihlah bisa diterima dengan kebanggaan dan lapang dada bila substansi sejarah yang berulang adalah sesuatu yang bernilai baik dan benar, akan tetapi sungguh menjadi petaka bila yang terulang adalah substansi sejarah yang bernilai buruk dan salah. Ironinya, sejarah yang baik hampir sama sekali tak bisa diraih kembali, sejarah yang buruk terus berulang-ulang dilakonkan hingga kini oleh sebagian besar kita, menjadi kebiasaan buruk yang melembaga di ranah kebudayaan tanah ini.

Aku coba mendefinisikan “kenyataan kini” sebagai sesuatu yang sebenarnya buruk dianggap baik, sesuatu yang sebenarnya salah dianggap benar dan sah-sah saja, sesuatu yang sebenarnya senonoh menjadi patut, sesuatu yang haram dipandang halal, sesuatu yang gagal dianggap berhasil, sesuatu yang pahit dipaksakan manis, kebohongan menjadi kebenaran, kebenaran terlihat hina, yang hina seolah terpandang, karena ukuran terpandang tidak lagi karena etika, ilmu dan kebijaksanaan akan tetapi oleh harta dan kekuasaan, kebenaran dibaurkan dengan keburukan sehingga melahirkan ketidakjelasan nilai antara baik dan buruk, ataupun antara benar dan salah.

Kawan! Lihat apa yang terjadi sekarang di tanah ini, “kenyataan kini” menjadi keseharian hidup kita, mendarah daging di jiwa dan sanubari, melembaga di struktur sosial tanah ini, maling teriak maling layaknya korupsi diberantas dengan korupsi, prostitusi ditertibkan dengan lokalisasi, pagar makan tanaman dan senjata makan tuan sudah lumrah dan biasa, lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis atau malah ada yang menjadi rumah jagal dan tempat pendidikan amoral, jerat hukum dan syariat agama hanya untuk si kecil yang miskin, lalu kemiskinan biarlah kemiskinan karena upaya pengentasan hanyalah sekedar program yang jauh dari kesungguhan menuju kemandirian, karena utang luar negeri adalah tanggungan rakyat jelata untuk dinikmati dan menjadi proyek pengayaan diri oleh para penguasa tanah ini.

Bisakah engkau menafikan bahwa ketidakberesan ternyata berasal dari penguasa, penegak hukum, pembuat peraturan, penggiat syariat, dan abdi negara di tanah ini. Sehingga janganlah pura-pura terkejut bahwa “kenyataan kini” telah melahirkan penguasa yang zalim, penegak hukum yang memilih uang, pembuat peraturan yang memihak kepentingan golongannya, penggiat syariat yang pandang kasta, abdi negara yang bermental korup. Celakanya, “kenyataan kini” juga telah menciptakan aktivis-aktivis banci yang oportunis, guru-guru yang sakit jiwa, dosen-dosen yang angkuh dan lupa ilmu, rumah sakit dengan dokter-perawat yang haus uang orang sakit, mahasiswa-mahasiswa hedon yang sableng, pengemis berdasi ataupun pelacur kelas tinggi dan banyak lagi.

Adapun “Kenyataan sebenarnya” dapat kumaknai dengan suatu keadaan yang telah dikritisi secara jujur dan objektif, sehingga tampil dan terlihat apa adanya. Sehingga sejatinya salah ya dipandang sebagai kesalahan dan benar adalah kebenaran. Gagal ya kegagalan, berhasil adalah keberhasilan.

Celakanya! Pada detik yang sama “kenyataan sebenarnya” tenggelam dibuai visi dan misi penguasa, program-program rehabilitasi, rekonstruksi, revitalisasi dan realisasi syariat yang dijalankan setengah hati dan bahkan tidak sedikit yang tinggallah janji. Sehingga yang terjadi adalah “kenyataan kini” seolah-olah berwujud sebagai “kenyataan sebenarnya”, dan akhirnya barangkali “kenyataan sebenarnya” semakin sulit untuk diungkapkan dengan cara yang biasa. Mungkin karena itu pula, walaupun kita hidup pada zaman yang konon katanya “maju dan modern”, masih banyak dari kita yang mengandalkan paranormal alias dukun untuk mengungkapkan kebenaran!

Yang kuungkapkan pastilah hanya sekelumit fenomena yang terus mengejala di tanah ini dan cenderung menjurus pada keadaan yang semakin ruwet dan gila. Akhirnya aku harus akui pula bahwa split personalityyang kini kian kentara menjangkiti masyarakat tanah ini adalah hal yang semakin sulit untuk diterapi. Kenapa demikian? Mungkin jawabannya karena kini kebanyakan kita semakin masa-bododengan apa yang awam kita kenal sebagai “realita”, sehingga daya sensibilitas atau kepekaan sosial kita sebagai makhluk yang dianugerahi akal semakin rapuh dan sirna untuk melihat dan menperjuangkan kebenaran dari sebuah kenyataan. Yap! walaupun barangkali saat ini kita tengah bernafas diujung zaman, tapi aku yakin masih belum terlambat untuk menggugat kenyataan dan memperjuangkan kebenaran! [1 November 2007].