Gugatan Terhadap Kenyataan

Kita acap tertipu dengan sebuah kemapanan. Sering menafikan sisi gelap yang seharusnya diterangi lalu dimaknai dan dikritisi. Keadaan ini membuat kita mati rasa terhadap kepahitan dari kenyataan (baca: kemapanan) yang tengah kita lihat dan elukan.

Apakah semuanya harus berakhir manis yang dipaksakan? Apakah semua kisah harus mengikuti alur yang mengantarkan kita pada suatu kemunafikan yang terbiasakan?

Kawan! Sungguh aku mulai gerah bicara tentang “kenyataan kini” karena bukan seperti inilah kenyataan itu. Bisakah engkau menjelaskan hakikat dari sebuah kenyataan sementara kita masih bersandiwara dan berpura-pura hidup bak pahlawan atau bahkan layaknya malaikat? Ataukah kita terus berfikir bahwa apa yang telah kita raih kini adalah sebuah pencapaian dan kesuksesan?!

Benar memang, tolak ukur dan pola pandang tiap orang berbeda satu dengan lainnya, hingga melahirkan sintesis-sintesis yang beragam, kadang sinergi dan malah sering kontradiktif! Tapi aku benar-benar yakin bahwa “kenyataan sebenarnya” adalah sesuatu yang mendasar dan apa adanya. Sebaliknya “kenyataan kini” didominasi dan lahir dari cara berfikir yang miskin keadilan dan kejujuran? Bagiku dan mungkin bagimu, bicara tentang “kenyataan kini” sama saja berdendang tentang hari-hari yang tercipta dari sebuah proses yang penuh permainan culas, dipoles dengan secuil tindakan suci setengah hati, seolah-olah tampaknya seperti perjuangan yang bebas noda, bebas dosa.

Kawan! Tanah tempat kita lahir dan dibesarkan ini, sesungguhnya adalah tanah yang telah gersang dan semakin gersang karena ketidaksadaran kita, sehingga hakikatnya saat ini kita tak lebih hanya sedang bermimpi indah hidup pada tanah subur nan makmur yang kemudian kita teriakkan latah sebagai sebuah kenyataan.

Bukan bermaksud menyalahkan sejarah, pendahulu dan kita di tanah ini, tapi aku yakin ketika seharusnya hari yang lalu kita bisa berfikir lebih visioner, bertindak secara lebih adil dan jujur, maka “kenyataan kini” yang sesungguhnya pilu takkan mendominasi hari ini. Maka sama halnya bila kemudian kita kini tersadar untuk mencoba berfikir terbuka, objektif dan optimis, bersikap dan bertindak adil dan jujur, sungguh “kenyataan kini” yang disesaki tipu muslihat sepatutnya takkan mudah terulang lagi dihari esok.

Sepertinya sungguh kita tak pernah bisa memetik hikmah sejarah, karena selama ini kita sering mengaku belajar dari sejarah, padahal sebenarnya kita hanya terpaku pada sejarah, atau bahkan kita menjiplak sejarah tersebut secara bulat-bulat, maka terjadilah pengulangan sejarah walaupun dilakonkan oleh orang yang berbeda dengan sedikit inovasi dan beda versi. Masihlah bisa diterima dengan kebanggaan dan lapang dada bila substansi sejarah yang berulang adalah sesuatu yang bernilai baik dan benar, akan tetapi sungguh menjadi petaka bila yang terulang adalah substansi sejarah yang bernilai buruk dan salah. Ironinya, sejarah yang baik hampir sama sekali tak bisa diraih kembali, sejarah yang buruk terus berulang-ulang dilakonkan hingga kini oleh sebagian besar kita, menjadi kebiasaan buruk yang melembaga di ranah kebudayaan tanah ini.

Aku coba mendefinisikan “kenyataan kini” sebagai sesuatu yang sebenarnya buruk dianggap baik, sesuatu yang sebenarnya salah dianggap benar dan sah-sah saja, sesuatu yang sebenarnya senonoh menjadi patut, sesuatu yang haram dipandang halal, sesuatu yang gagal dianggap berhasil, sesuatu yang pahit dipaksakan manis, kebohongan menjadi kebenaran, kebenaran terlihat hina, yang hina seolah terpandang, karena ukuran terpandang tidak lagi karena etika, ilmu dan kebijaksanaan akan tetapi oleh harta dan kekuasaan, kebenaran dibaurkan dengan keburukan sehingga melahirkan ketidakjelasan nilai antara baik dan buruk, ataupun antara benar dan salah.

Kawan! Lihat apa yang terjadi sekarang di tanah ini, “kenyataan kini” menjadi keseharian hidup kita, mendarah daging di jiwa dan sanubari, melembaga di struktur sosial tanah ini, maling teriak maling layaknya korupsi diberantas dengan korupsi, prostitusi ditertibkan dengan lokalisasi, pagar makan tanaman dan senjata makan tuan sudah lumrah dan biasa, lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis atau malah ada yang menjadi rumah jagal dan tempat pendidikan amoral, jerat hukum dan syariat agama hanya untuk si kecil yang miskin, lalu kemiskinan biarlah kemiskinan karena upaya pengentasan hanyalah sekedar program yang jauh dari kesungguhan menuju kemandirian, karena utang luar negeri adalah tanggungan rakyat jelata untuk dinikmati dan menjadi proyek pengayaan diri oleh para penguasa tanah ini.

Bisakah engkau menafikan bahwa ketidakberesan ternyata berasal dari penguasa, penegak hukum, pembuat peraturan, penggiat syariat, dan abdi negara di tanah ini. Sehingga janganlah pura-pura terkejut bahwa “kenyataan kini” telah melahirkan penguasa yang zalim, penegak hukum yang memilih uang, pembuat peraturan yang memihak kepentingan golongannya, penggiat syariat yang pandang kasta, abdi negara yang bermental korup. Celakanya, “kenyataan kini” juga telah menciptakan aktivis-aktivis banci yang oportunis, guru-guru yang sakit jiwa, dosen-dosen yang angkuh dan lupa ilmu, rumah sakit dengan dokter-perawat yang haus uang orang sakit, mahasiswa-mahasiswa hedon yang sableng, pengemis berdasi ataupun pelacur kelas tinggi dan banyak lagi.

Adapun “Kenyataan sebenarnya” dapat kumaknai dengan suatu keadaan yang telah dikritisi secara jujur dan objektif, sehingga tampil dan terlihat apa adanya. Sehingga sejatinya salah ya dipandang sebagai kesalahan dan benar adalah kebenaran. Gagal ya kegagalan, berhasil adalah keberhasilan.

Celakanya! Pada detik yang sama “kenyataan sebenarnya” tenggelam dibuai visi dan misi penguasa, program-program rehabilitasi, rekonstruksi, revitalisasi dan realisasi syariat yang dijalankan setengah hati dan bahkan tidak sedikit yang tinggallah janji. Sehingga yang terjadi adalah “kenyataan kini” seolah-olah berwujud sebagai “kenyataan sebenarnya”, dan akhirnya barangkali “kenyataan sebenarnya” semakin sulit untuk diungkapkan dengan cara yang biasa. Mungkin karena itu pula, walaupun kita hidup pada zaman yang konon katanya “maju dan modern”, masih banyak dari kita yang mengandalkan paranormal alias dukun untuk mengungkapkan kebenaran!

Yang kuungkapkan pastilah hanya sekelumit fenomena yang terus mengejala di tanah ini dan cenderung menjurus pada keadaan yang semakin ruwet dan gila. Akhirnya aku harus akui pula bahwa split personality yang kini kian kentara menjangkiti masyarakat tanah ini adalah hal yang semakin sulit untuk diterapi. Kenapa demikian? Mungkin jawabannya karena kini kebanyakan kita semakin masa-bodo dengan apa yang awam kita kenal sebagai “realita”, sehingga daya sensibilitas atau kepekaan sosial kita sebagai makhluk yang dianugerahi akal semakin rapuh dan sirna untuk melihat dan menperjuangkan kebenaran dari sebuah kenyataan. Yap! walaupun barangkali saat ini kita tengah bernafas diujung zaman, tapi aku yakin masih belum terlambat untuk menggugat kenyataan dan memperjuangkan kebenaran! [1 November 2007].

Iklan

Penulis: Arifsyah M. Nasution

Objective & Progressive !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s